Kamis, 01 Juni 2017

ICoASL 2017 "Ayo Dolanan"




Saya akan memulai cerita dari sini. Jadi, sekitar 3 minggu yang lalu, tanggal 10-12 Mei 2017, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadi tuan rumah International big event yaitu ICoASL. Apa sih ICoASL?  Jadi ICoASL atau International Conference of Asian Special Libraries ini merupakan acara rutin dua tahunan yang diselenggarakan di negara-negara berbeda. Tahun ini merupakan konferensi ke-5 bertemakan "Curation and Management of Cultural Heritage through Libraries: Challenges and Opportunities in the Digital Society"


Sebagai wujud partisipasi dan penyambutan big event ini, kami mahasiswa IP diminta ikut terlibat dengan membuat pameran bertema “Dolanan Anak”. Setiap stand wajib memamerkan 3 permainan anak tradisional yang berbeda, masing-masing stand tidak boleh sama. Bagi yang ingin bernostalgia di masa kecil, acara ini sangat cocok menjadi perantaranya. Secara, anak-anak kecil saat ini jarang yang mengenal permainan tradisional, sudah kalah dengan game-game yang ada di gadget masing-masing. Hmm,, enakan masa kecil kita yaaa.. Sayangnya acara sudah berlalu, jadi di sini saya hanya akan mengulasnya saja,, siapa tahu bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman..

Kembali ke topik. Teman-teman bisa menjumpai bermacam-macam permainan di sini. Mulai dari egrang bambu, bola bekel (biasanya anak-anak perempuan yang suka main ini), terus rangku alu (hayoooo apa rangku alu itu??), bakiya panjang (jadi inget lomba 17 Agustus :D) terus apa lagi ya? Mmm, o iya ada permainan dakon juga, bapidak dsb. 

Kalau di total ada sekitar 10 stand lah dengan dekor yang fantastis dan mampu mengubah halaman depan CH menjadi area permainan anak. Pengunjung dari delegasi negara-negara anggota konferensi cukup menikmati pameran ini. Ikut main juga, seru sekali melihat mereka main. Ada yang terus mencoba sampai mereka menang. Waaaaa .. Semangat ya.. Oh iya fyi aja beberapa stand ada yang memberikan hadiah untuk para pengunjung yang mau bermain dan menang dalam permainan. Kalau di stand fantastis 10 hadiahnya berupa peluit bambu. Peluit bambu ini ternyata cukup unik bagi mereka. Bahkan ada yang komentar gini initinya “Kalau ada cewek lewat saya bisa gunakan mainan ini”(dalam bahasa inggris tapi) haha spontan semua pengunjung tertawa semua. Beberapa ada yang ikut merasakan makanan maupun minuman tradisional yang disediakan masing-masing stand. Salah satunya penikmat es kopyor di stand Krambil. Panas-panas, seger yaa minum es kopyor..

Participant dari India menikmati kopyor. . .

Saya numpang eksis nggak apa-apa yaa.. Cari sendiri yang mana saya? :D
Nah karena saya dari stand Krambil, jadi di sini akan banyak bercerita tentang stand Krambil. Lets go !
Awalnya kelompok saya bingung, ambil permainan apa ya? Bingung karena permainan yang masuk daftar kami sudah dipakai kelompok lain. Akhirnya, karena semakin hari semakin mendekati hari H, kami memutuskan permainan bola bekel, biting-bitingan, dan mobil- mobilan dari serabut kelapa. Tentu semuanya sudah tahu kan permainannya seperti apa? Kalau ada yang belum tahu,saya kasih penjelasannya di sini tapi secara umum saja ya

·      Permainan bola bekel berasal dari Jawa Timur. Kalau di daerah Jawa Barat permainan bola bekel biasanya dikenal dengan nama beklen yang berarti bekal. Beklen atau bekel berasal dari bahasa Belanda yaitu bikkelen. Nah, permainannya itu menggunakan bola karet dan beberapa biji bekel.
bola bekel dan biji bekel

  • Kalau biting-bitingan itu terbuat dari lidi. Bisa dimainkan secara berkelompok maupun sendiri. Biasanya dimainkan oleh  3 – 4 orang anak. Cara mainnya : pertama buat garis pembatas. Lalu kalian sebarkan kumpulan lidi ke lantai atau bisa juga di atas meja yang sudah dikasih pembatas tadi. Lidi yang melewati garis pembatas/ sebagian besar bagian lidi melewati garis pembatas, maka lidi itu dinyatakan keluar. Pemain mengambil lidi satu persatu, lidi yang lain tidak boleh ada yang bergerak. Apabila lidi yang lain bergerak karena tersentuh lidi itu, maka permainan berhenti dan ganti pemain yang lain.
Biting-bitingan

·      
Proses membust mobil-mobilan dari serabut kelapa

Permainan sudah fix, tinggal menentukan nama standnya. Awalnya ada usulan Snowball, tapi kata salah satu anggota kelompok saya Snowball sama sekali nggak masuk di tema kita. Lalu ada yang usul lagi Krambil. Nama Krambil diadopsi dari permainan kita yang mayoritas terbuat dari pohon kelapa. Fix, nama stand kami Krambil.
Kalau di stand fantastis memberikan souvenir berupa peluit bambu, nah stand Krambil juga punya lho, apa itu?  Ada gantungan kunci batok sama pensil boneka. Kalau bagi warga Jogja mungkin “ih cuma gantungan kunci , ih cuma pensil”  tapi ternyata cukup unik bagi mereka para participant.
Pokoknya acara ini menyimpan suka duka tersendiri deh. Mulai dari persiapannya yang sampai rela nggak tidur semalaman. Ya waktu itu malam tanggal 10 saya nggak tidur sampai subuh. Baru waktu adzan shubuh pulang ke kos temen. Wuiih baru kali ini greget banget kaya gini. Saking gregetnya ni, di jalan kami abadikan dengan foto-foto amatiran wkwk






Kami dengan membawa barang-barang entah apa itu isinya, sudah kaya transmigran. Para pengguna jalan yang lewat dan melihat kami seakan bertanya “Cewek-cewek, subuh-subuh gini dari mana?” Hmm, dan keadaan kami sangat memelas sekali waktu itu, dengan kantong mata besar seperti panda wkwk
Acara ini menyisakan kenangan yang pastinya nggak akan terlupakan seumur hidup. Bisa buat cerita anak cucu kita nanti wkwk. Terima kasih buat kesempatan ini, terima kasih juga buat Krambil Team atas kerjasamanya. Jangan takut dengan hal baru yang akan kita jalani, tetap hadapi dan jalani dengan serius tapi santai.
Thanks guys for following me in this story, See u next time . . .

Krambil Team

Senin, 17 April 2017

Berkarya bersama OMIP Liberty




Awal masuk jurusan Ilmu Perpustakaan, agak sedikit kaget karena ternyata realitanya tidak semudah yang dibayangkan. Dulu bayangan saya, jurusan Ilmu Perpustakaan hanya belajar mengurutkan buku, menata buku dan operasional lain yang biasa saya lihat di perpustakaan, sama seperti anggapan orang-orang pada umumnya. Kalau bayangan itu diterapkan untuk perpustakaan masa kini ya sudah tergolong jadul. Hingga akhirnya ada sosialisasi dari salah satu organisasi Ilmu perpustakaan yaitu OMIP Liberty. Tujuannya saya ingin lebih mendalami seorang pustakawan dan perpustakaan itu seperti apa sebenarnya. Jadi, dalam organisasi ini terdapat 4 divisi yaitu

  • Divisi Kepustakawanan (KPW)

Dalam divisi ini kita belajar bermacam-macam hal yang berhubungan dengan kepustakawanan, ya seperti katalogisasi, klasifikasi, pelatihan otomasi, pengolahan perpustakaan  / TBM, terus ada juga seminar, bukan seminar sih sebenarnya tapi mini talk show. Belum lama ini, sekitar sebulan yang lalu, baru aja  mengadakan mini talkshow tentang Infografis. Pada tahu kan Infografis itu apa? Nah, kalau pelatihan katalogisasi sama klasifikasi itu biasanya dilakukan setahun sekali. Jadi dalam pelatihan itu kita belajar mengenai pembuatan katalog dan pengklasifikasian bahan pustaka, terutama untuk adek tingkat yang masih maba, karena kalau baru awal-awal kan masih agak bingung ya, menentukan subjek gimana, mencari nomor kelasnya gimana, menyusun katalognya gimana, nah dengan pelatihan ini diharapkan bisa membantu mereka keluar dari kebingungan itu hehe. Kalau pelatihan otomasi ya prosedurnya hampir sama cuma para peserta diharapkan membawa laptop sendiri-sendiri supaya lebih jelas waktu prakteknya, kan harus instal xampp, Slims, praktek input juga, kalau gak bawa kan repot, tapi kalau kepepetnya nggak punya ya nggak apa-apa, tetep boleh ikut kok J. Kabar bahagianya pelatihan ini gratis lho, tanpa dipungut biaya dari pesertanya, dapat snack pula, enak kan? Untuk pengolahan, OMIP Liberty pernah melakukan pengolahan di TBM Kerai dan TBM Adil 2. Kegiatannya mulai dari input, pelabelan sampai pengerakan. Walaupun pengolahan ini proker dari divisi kepustakawanan tapi kalau anggota dari divisi lain pengen ikut boleh-boleh aja lho. Jadi, divisi itu tidak membatasi masing-masing anggota untuk ikut berpartisipasi. Sayangnya, tahun ini nggak ada pengolahan, kurang tau alasannya, tapi harapannya bisa berlanjut lagi deh. Kok dari tadi cerita kepustakawanan mulu ya? Lah divisi lain gimana? Hehe karena saya anggota divisi ini, jadi banyak tau tentang kegiataannya apa aja. Okelah kita ke divisi KWU yuk..

  • Divisi Kewirausahaan (KWU)

Namanya aja kewirausahaan pasti kegiatannya jualan deh atau kalau nggak kegiatan yang menghasilkan duit gitu (itu pemikiran saya dulu waktu waktu kakak-kakaknya sosialisasi hehe), dan ternyata memang benar kadang kalau pas wisudaan itu anggotanya ada yang jualan bunga, minuman dsb., tapi ternyata tidak hanya itu belum lama ini divisi KWU juga mengadakan kunjungan industri di beberapa tempat salah satunya di Kasongan, dekat rumah saya, yang orang Bantul pasti tahu lah. Selain itu ada juga pelatihan kewirausahaan seperti membuat kue dll.

  • Divisi Forkip (Forkip itu singkatan dari Forum Kajian Ilmu Perpustakaan)

Kegiatannya ya seperti belajar bareng membahas materi-materi yang di pelajari dalam jurusan Ilmu Perpustakaan gitu.

  • Divisi Jarkop

Kalau divisi jarkop itu hubungannya dengan teknologi, seperti desain. Kalau omip ada acara besar nih, biasanya desain stiker, banner dsb itu tugasnya divisi jarkop. O iya, mini talkshow yang saya ceritakan tadi itu kerjasama antara divisi Kepustakawanan dan Jarkop.
Waktu saya masuk,  organisasi ini diketuai oleh mas Akmal Faradise, untuk saat ini Ketua Umum Omip Liberty periode 2016/2017 adalah mbak Endah Dwi Susanti. Singkatnya seperti ini susunan organisasinya
Ketua             : Endah Dwi Susanti
Wakil             : Firman Dwi Anggito
Sekretaris      : Setri Wulandari & Rafita Prabawati
Bendahara     : Aufaisma & Pradicka
Kadiv KPW   : Latifa
Kadiv KWu   : Didik
Kadiv Jarkop : Ateja Yudi
Kadiv Forkip : Martalia Arimbi
Untuk mempermudah komunikasi antar anggota selain mengadakan rapat rutin juga dibuat grup whatsapp yang beranggotakan seluruh personil Omip Liberty.  Ada juga akun facebook (Omip Liberty Uin-suka), instagram dan twitter (@libertyuinsuka).
                Hmm, selain kegiatan dari divisi, ada juga kegiatan umum untuk seluruh anggota Omip Liberty, seperti Bakti Pustaka. Acara perdana Bakti Pustaka yang berlangsung bulan Desember lalu dilaksanakan di TBM Kerai dan TBM Adil 2, dengan serangkaian acara yang menarik untuk adik-adik, remaja dan orang tua, ada lomba menggambar, lomba mewarnai,  baca puisi, cek kesehatan, untuk cek kesehatan ini bekerja sama dengan UKM Fakultas Kedokteran UII. Lumayan kan selain dapat ilmu dan pengalaman juga dapat kenalan.

Selasa, 07 Maret 2017

Kampus UIN Suka Berpuisi


Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga bekerja sama dengan Forum Mari Membaca Puisi Indonesia (MMPI) menyelenggarakan sebuah acara bertema “Kampus UIN Suka Berpuisi” pada hari Selasa,  7 Maret 2017 bertempat di Teatrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Acara ini diselenggarakan dalam rangka launching buku antologi puisi “Ombak Negeri Legenda” karya Aly D. Musyrifa. Acara ini dibawakan oleh host ternama Dra. Labibah Zain, M. LIS, beliau adalah dosen prodi Ilmu Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus Kepala Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan tak lain adalah istri dari Aly D. Musyrifa. “Kali ini Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga mencoba keluar dari persangkaan mainstream, dengan merangkaikankan kata-kata melalui puisi” begitulah kutipan dari Dra. Labibah Zain, M. LIS ketika membawakan acara. Tamu undangan yang hadir serta berpartisipasi dalam acara ini diantaranya Prof. Dr. Babun Suharto (Rektor IAIN Jember), Prof. Dr. Syihabuddin Qalyubi (Akademisi), Hj. Sitoresmi Prabuningrat (Aktris), Dr.KH. malik Madany (Kyai dan akademisi), Drs. Imam Ma’ruf (Anggota DPRD Jatim), Dr. Ida Nur’aini hadna, M.Pd (Pustakawan), Dr. Abdur Rozaki (Peneliti IRE), Dr. Fathorrahman Ghufron (Akademisi dan Kolomnis), Nana Ernawati (Sastrawan), Dr. Fadhil Yani A (Akademisi), Widyastuti Kartini, S.Sos (Pustakawan), dan Zakky Akhfash Ramadlani (siswa SD Baitul Amin Jember).

Gbr 1. Tamu undangan yang berpartisipasi membacakan puisi Aly D. Musyrifa

Acara ini dibuka dengan penampilan musikalisasi puisi karya Aly D. Musyrifa oleh divisi musik Teater Eska. Ada 3 judul puisi yang dibawakan yaitu Song for Enesa, Burung-burung di Tiang Duka, dan Tak Ada Tempat Terbaik. Setelah musikalisasi puisi dari Teater Eska, acara dilanjutkan dengan pembacaan puisi karya Aly D.Musyrifa oleh tamu undangan yang  telah ditunjuk.  Prof.  Dr.Syihabuddin Qalyubi  tampil perdana membawakan puisi Aly D. Musyrifa berjudul Tak Ada Tempat Terbaik yang terdapat dalam buku “Ombak Negeri Legenda”.

Gbr 2. Penampilan Pembuka dari Teater Eska

Penampilan selanjutnya yaitu pembacaan puisi oleh dosen muda Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dr. Fatkhorrahman Ghufron, yang juga seorang kolomnis di surat kabar Kompas. Beliau membawakan puisi berjudul “Bunga yang Dulu Ku Petik”. Menurut beliau,membaca puisi sama halnya membaca qur’an, banyak ritual yang dilakukan untuk bisa menghayati.

            Dr. Fadhil Yani sebagai tamu ketiga yang tampil. Beliau membawakan puisi berjudul Qoblad-dumu’a (Sebelum Air Mata) dan dilanjutkan penampilan menakjubkan oleh Zakky Akhfash Ramadlani seorang siswa kelas 5 SD Baitul Amin Jember yang tak lain adalah putra dari Rektor IAIN Jember. Zakky membawakan puisi berjudul “Kalender” dengan sangat lantang dan menghayati.

Tak kalah menakjubkan juga yaitu penampilan dari seorang aktris Hj. Sitoresmi Prabuningrat. Beliau merupakan salah satu pemain dalam sinetron melegenda tahun 90-an “Keluarga Cemara”. Pada kesempatan ini beliau membawakan puisi Aly yang berjudul “Rumahku”.

Gbr 3. Penampilan Hj. Sitoresmi Prabuningrat

Tak hanya aktris, politisi ternyata juga mampu berkreasi. Drs. Imam Ma’ruf seorang anggota DPRD Jawa Timur juga ikut serta berpartisipasi membawakan puisi Aly yang berjudul “Ombak Kekasih yang ke-5”. Di tengah- tengah acara ini, juga ditampilkan special music performance dari Farid Mustova, Dosen Filsafat UGM yang juga mantan basis Eska Rocband. Beliau mengaransemen puisi “Burung-Burung di Tiang Duka” ditampilkan dengan 2 genre lagu.
 
Gbr 4. Penampilan Drs. Imam Ma'ruf

Penampilan pustakawan UIN Sunan Kalijaga, Dr. Ida Nur’aini Hadna, M.Pd, menunjukkan bahwa pustakawan bukan melulu mengurusi buku namun juga mampu berkreasi. Pada kesempatan ini beliau membacakan puisi Aly D. Musyrifa berjudul “Sepeda”. Selanjutnya penampilan dari Rektor IAIN Jember, Prof. Dr. Babun Suharto, membawakan puisi berjudul “Aku Tak Pernah Tua”. Tak mau kalah dengan rekan kerjanya, Widyastuti Kartini yang merupakan Ketua Pustakawan UIN Sunan Kalijaga ikut berpartisipasi dengan membacakan puisi berjudul “Ku Tampung Cahaya Pagi”. Puisi selanjutnya yaitu “Ku ingin dalam Sajakmu” dibawakan oleh Nana Ernawati diiringi violist Iqbal Saputra. Nana Ernawati merupakan pendiri Yayasan Sastra Reboeng, Jakarta.

Gbr 5. Nana Ernawati bersama Iqbal Putra

Wakil Dekan 3 Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga juga ikut serta tampil membawakan puisi Aly D. Musyrifa. Sebelum memulainya, beliau menyampaikan qoute “Jika setiap politik kotor, puisi yang akan membersihkannya. Jika hidupmu kurang bahagia, bacalah puisi.” Tamu undangan terakhir yang membacakan puisi Aly D.Musyrifa yaitu KH. Malik Madany seorang tokoh PBNU. Beliau membawakan puisi Aly d. Musyrifa yang berjudul “Lelaki Ziarah”.
Dalam event ini, komentator  Prof. Dr. Taufik A Dardiri tidak dapat mengutarakan pendapatnya karena ada masalah pita suara. Maka dari itu, sebagai perwakilannya beliau mengirim pesan singkat kepada salah satu staf UIN Sunan Kalijaga untuk membacakan komentarnya atas karya Aly D. Musyrifa. Pesan tersebut kurang lebih berisi “Penyair itu ibarat rembulan. Aly merefleksikan panasnya kehidupan ini secara tidak langsung. Seperti rembulan, Aly seakan menghisap panasnya kehidupan yang menyesakkan dada itu terlebih dahulu kemudian diolah pakai bumbu-bumbu pengalaman kejiwaan yang khas lagi jujur baru kemudian dipantulkan ke dalam kehidupan ini sudah dalam wujudny yang redup tenang dan menyejukkan dalam pilihan kata yg imajinatif”
            Acara ini ditutup dengan penampilan Sang Penyair, Aly D.Musyrifa, feat Merlisto (pemusik) menampilkan kompilasi puisi dari karyanya dalam buku antologi puisi “Ombak Negeri Legenda”.
 
Gbr 6. Aly D. Musyrifa feat Merlisto